Kamis, 03 Januari 2013

“10 Kerusakan dalam Perayaan Tahun Baru (Akhir Tahun)”


Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.

Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya. 

“Sejarah Tahun Baru Masehi”
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]
Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru :

Rabu, 12 Desember 2012

Minggu, 09 Desember 2012

Lalai untuk Belajar Islam


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam, keluarga dan sahabatnya,serta pengikutnya hingga akhir zaman nanti.


Tuntunan zaman dan semakin canggihnya teknologi menuntut generasi muda untuk bisa “membuka mata” akan hal itu. Sehingga orang tua pun berlomba-lomba bagaimana bisa menjadikan anaknya pintar komputer dan lancar bercuap-cuap ngomong English. Namun sayangnya karena porsi yang berlebih terhadap ilmu dunia sampai-sampai karena mesti anak belajar di tempat les sore hari, kegiatan belajar Al-Qur’an pun dilalaikan. Lihatlah tidak sedikit dari generasi muda saat ini yang tidak bisa baca Qur’an, bahkan ada yang sampai buku Iqro’ pun tidak tahu.
Merenungkan Ayat

Ayat ini yang patut jadi renungan yaitu firman Allah Ta’ala,
 “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7)

Keteguhan Iman Habib bin Zaid radhiyallahu ‘anhu

Dahulu, ada seorang yang mengaku nabi di jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia sangat membenci umat islam dan selalu mengobarkan perang kepada kaum muslimin. Dialah Musailamah al Khazab (pendusta). Suatu hari dia berkirim surat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Isi surat :
“Dari Musailamah Rasulullah
Kepada Muhammad Rasulullah
“sesungguhnya aku telah diangkat menjadi nabi dan menjadi serikat anda.
Dan kami memperoleh separuh bumi, sedang bumi yang lain untuk orang-orang quraisy.”

Setelah membaca surat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  pun menulis surat balasan dan mengutus Habib binZaid radhiyallahu ‘anhu untuk menyampaikan balasan surat itu. Dengan bekal iman yang teguh dan mantab, Habib bin zaid radhiyallahu ‘anhu melangkah menunaikan amanat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.

Surat balasan :
“Dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Kepada Musailamah pendusta,
“sesungguhnya bumi itu milik Allah Ta’ala dan di wariskan kepada hamba-hamba-Nya yang di kehendaki-Nya . Dan sesudahnya akan berada di pihak orang orang yang bertaqwa.”

Film Teknologi

Kelompok Film TIK MAN Yogyakarta 1
-Hasan Basri / 24 / xc
-M.Ziqri Suhandy / 26 / xc
-Nasrul Huda / 27 / xc
-Rausan Fikri PP / 30 / xc
-Vian Abma / 34 /xc


 

Followers

hasanalinayah Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template